Bagaimana cara reksa dana bekerja?

Cara Kerja Reksa Dana

Sejumlah orang percaya bahwa reksa dana hanyalah pilihan investasi untuk golongan masyarakat kelas atas. Namun, hal itu tidak benar sebab investasi reksa dana dapat dilakukan oleh siapa pun. Seseorang yang ingin memulai berinvestasi pada reksa dana dapat memilih manajer investasi yang memiliki keahlian di bidang ini. Mari kita simak contoh berikut untuk memahami cara kerja reksa dana.

Seorang pemodal ingin berinvestasi dalam reksa dana, tetapi hanya memiliki uang sebanyak Rp. 500,000.00 untuk mulai berinvestasi. Pemodal ingin menginvestasikan uang tersebut ke dalam bentuk saham blue chip sebanyak 50%, obligasi korporasi sebanyak 30% dan tunai sebanyak 20%. Namun Ia tidak bisa melakukannya sendiri karena keterbatasan modal awal.

Oleh sebab itu, pemodal memutuskan untuk mengajak salah satu rekannya untuk berinvestasi bersama dirinya. Manajer investasi lalu mengolah dana tersebut dan melakukan kegiatan investasi dengan mengingat satu tujuan akhir, yakni untuk mendapatkan return atau pendapatan terbaik bagi masing-masing pemodal. Pada akhirnya, tergantung pada jumlah kontribusi yang dibuat oleh masing-masing pemodal, pemodal akan mendapatkan keuntungan mereka di akhir durasi investasi.

Apa Itu Nilai Aset Bersih (NAB)?

Saat berinvestasi di reksa dana, Anda pasti sering mendengar istilah Nilai Aktiva Bersih (NAB). NAB pada dasarnya adalah nilai aset suatu reksa dana dikurangi nilai kewajiban (liability) dibagi dengan jumlah unit reksa dana. Dengan kata lain, NAB adalah nilai bersih setiap unit reksa dana. Ketika kamu ingin membeli unit reksa dana, harga yang harus dibayar untuk setiap unit adalah NAB. Jadi, kamu harus memiliki pemahaman yang baik tentang apa itu NAB.

Sebelum kita membahas NAB, mari kita ketahui dari mana skema reksa dana berasal. Awalnya, perusahaan aset manajemen meluncurkan penawaran dana baru atau yang disebut New Fund Offering (NFO). Dana baru ini memiliki tujuan investasi dalam instrumen tertentu - seperti ekuitas, utang, saham kapitalisasi besar atau kecil, saham sektoral - tergantung pada rencana investasi. Perusahaan aset manajemen lalu memasarkan dana tersebut, mengundang investor untuk berinvestasi. Kemudian, setelah perusahaan mengumpulkan dana dari para investor, dana tersebut digunakan untuk diinvestasikan sesuai dengan tujuan investasi.

Lalu, bagaimana angka NAB muncul? Setelah dana yang dikumpulkan diinvestasikan ke dalam, katakanlah, saham, NAB skema reksa dana akan muncul. NAB adalah harga pasar saham pada skema reksa dana dikurangi biaya administrasi (rasio pengeluaran). Karena harga saham mengalami perubahan setiap saat, NAB reksa juga ikut berubah. Kemudian, investor dapat mengukur keuntungan atau kerugian investasi dengan membandingkan NAB reksa dana saat ini dengan NAB awal ketika membeli unit reksa dana.

Sebagai contoh, katakanlah Anda berinvestasi pada sebuah unit reksa dana sebesar Rp.100.000,00 (NAB). Kemudian dalam jangka waktu enam bulan, unit reksa dana Anda meningkat ke angka Rp. 120.000,00. Ini berarti, reksa dana Anda mengalami peningkatan sebanyak 20 persen pada periode tersebut.

Bagaimana Cara Mudah Untuk Menganalisa Pendapatan?

Sangat penting bagi Anda untuk mengetahui apa itu NAB, sebab NAB dapat digunakan sebagai tolak ukur pendapatan investasi. Dengan menggunakan NAB, Anda dapat melacak pendapatan setiap hari, bulanan atau setiap tiga bulan. Para pakar investasi merekomendasikan agar investor memeriksa NAB di setiap triwulan untuk benar-benar mengetahui kinerja reksa dana. Waktu lain yang tepat untuk memeriksa NAB adalah ketika ada peristiwa besar, seperti kenaikan di pasar saham, market crash, atau perubahan suku bunga.

Apa Yang Tidak Digambarkan Oleh NAB?

Merupakan hal yang baik untuk Anda mengetahui apa fungsi dari NAB. NAB dapat Anda jadikan sebagai tolak ukur kinerja skema reksa dana. Namun, NAB tidak dapat menggambarkan kinerja dari setiap saham yang dimiliki di dalam reksa dana. Sebagai contoh, NAB tidak dapat menggambarkan bahwa skema reksa dana saham berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat Price-Earnings Ratio (PER) tinggi dan karenanya harga saham di nilai terlalu tinggi (overvalued).