Apakah reksa dana memiliki risiko?

Risiko di reksa dana muncul ketika berkurangnya Nilai Unit Penyertaan. Anda akan membeli reksa dana dalam bentuk unit penyertaan. Nilai unit penyertaan dalam reksa dana ini akan fluktuatif karena dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Misalnya, penurunan harga di efek saham, obligasi, surat berharga atau yang lainnya sehingga Nilai Aktiva Bersih (NAB) menjadi turun. Selain itu, di beberapa kondisi risiko likuiditas juga bisa terjadi di reksa dana.

Risiko likuiditas di reksa dana dapat terjadi jika terlalu banyak investor yang melakukan penjualan kembali (redemption) unit-unit yang mereka miliki. Adanya risiko ini sebetulnya mendorong Manajemen Investasi untuk memberikan kinerja sebaik-baiknya agar jumlah redemption tidak melunjak.

Sementara itu, risiko yang tak dapat dihindari adalah perubahan kondisi ekonomi dan politik. Karena Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka, berarti perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap perubahan ekonomi internasional. Kinerja perusahaan di Indonesia, termasuk perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekonomi dan politik di dalam dan di luar negeri. Oleh karena itu, secara tidak langsung kinerja portofolio reksa dana akan terpengaruhi.

Yang terakhir, tentunya adalah risiko dasar yang dapat terjadi ketika manajer investasi membeli obligasi di emiten yang ternyata sedang mengalami kesulitan secara finansial. Padahal, sebelumnya kinerja perusahaan tersebut masih baik-baik saja. Dengan adanya risiko ini, tentu Manajemen Investasi akan terdorong untuk lebih cermat lagi dalam memilih emiten.