Menyiapkan Dana Darurat Dengan Nabung Reksa Dana

 

Alarm handphone berbunyi menandakan waktunya kamu harus bangun untuk berangkat ke kantor. Pagi itu terasa seperti biasanya dan kamu pun melakukan berbagai ritual pagi hari sesuai kebiasaanmu. Sesampainya di kantor, kamu merasakan ada sesuatu yang berbeda, namun segera menghiraukannya. Sesaat setelah menaruh tas dan menyalakan komputer, tiba-tiba kepala bagian HR memanggilmu masuk ke dalam ruangannya. “Perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan dan harus melepas sejumlah karyawan, termasuk kamu.”

Diantara kamu mungkin pernah mengalami hal seperti ini. Kehilangan pekerjaan tanpa ada backup plan untuk mencari penghasilan. Terkadang, kita suka lupa bahwa risiko selalu ada dan belum tentu selamanya semua akan berjalan dengan baik.

Asuransi mungkin bisa menjadi salah satu jawaban untuk bisa mengantisipasi risiko tak terduga, seperti risiko sakit, kecelakaan, atau kematian. Namun masih banyak risiko yang tidak dapat diproteksi oleh asuransi, misalnya kasus PHK di atas atau ketika rumah butuh renovasi segera.

Dalam hal ini, menyiapkan dana darurat itu sangat penting. Dana ini bukan bagian dari tabungan anak sekolah atau bekal dana pensiun. Dana ini terpisah dan harus disisihkan minimal 10 persen dari penghasilan.

Bahkan, bagi kamu yang terkena PHK atau mengundurkan diri sebelum memperoleh pekerjaan baru harus menyediakan dana darurat minimal 3 kali dari pendapatan bulanan yang biasa diperoleh. Misalkan, kamu memiliki penghasilan Rp8 juta per bulan, maka dana darurat yang harus kamu miliki setidaknya adalah 3 kali dari gaji bulanan atau Rp24 juta. Asumsinya, dana darurat tersebut akan digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari selama mencari pekerjaan baru.

Lalu, bagaimana menyiapkan dana darurat yang ideal?

Jawabannya adalah dengan menginvestasikan penghasilan yang diperoleh saat ini sebagai dana darurat. Untuk mendapatkan dana darurat sebanyak 3 kali pendapatan bulanan tersebut secara lebih cepat, berinvestasi di reksadana dapat menjadi pilihan yang tepat. Sebab reksadana memiliki tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan menabung di deposito.

Untuk menyiapkan dana Rp24 juta, kamu bisa menyisihkan dana 10 persen dari penghasilanmu atau Rp800 ribu dengan berinvestasi di reksadana pendapatan tetap, Syailendra Fixed Income. Dipilihnya reksadana pendapatan tetap karena instrumennya yang cenderung likuid, cocok buat kamu yang membutuhkan dana cepat di waktu yang tak terduga.

Dari investasi selama 2,5 tahun di Syailendra Fixed Income kamu bisa mendapatkan dana Rp24,9 juta dengan imbal hasil bersih sekitar 6,88 persen tanpa kena potongan pajak. Bandingkan apabila kamu hanya menabung di bank dengan bunga 2 persen per tahun dan masih dipotong pajak dan biaya administrasi.

Kamu juga bisa memilih instrumen reksadana lainnya sesuai jangka waktu dan karakteristik kamu. Misalnya kamu ingin investasi jangka pendek, kamu dapat mencoba reksadana pasar uang atau pendapatan tetap. Tetapi jika ingin mencoba investasi jangka panjang disarankan untuk mencoba reksadana campuran atau reksadana saham.

Yuk, segera siapkan dana daruratmu sebelum terjadi risiko yang tidak diinginkan

Disadur dari: Bareksa.com