Komentar Pasar Mingguan

Komentar pasar mingguan (16 – 20 November 2015) Pada pekan lalu indeks IHSG ditutup menguat sebesar 88 poin ke level 4.561 atau naik 2% WoW dan saham-saham penggerak indeks adalah HMSP, GGRM, UNVR, ASII, PGAS, TLKM, dan BBRI. Sektor-sektor dengan performa di atas indeks adalah Sektor Infrastruktur, Sektor Industri Dasar, Sektor Barang Konsumsi, serta Sektor Keuangan. Investor asing kembali membukukan penjualan bersih sebesar Rp 518 miliar dan nilai tukar Rupiah tetap stabil di level Rp 13.623/USD. Sepanjang bulan November ini telah terjadi aliran keluar dana asing pada pasar saham sebesar Rp 2,2 triliun atau setara dengan USD 162 juta.   Dari berita internasional, data AS yang dirilis pada pekan lalu mengenai pengajuan jaminan sosial oleh penggangguran kembali mengalami penurunan sebesar 5 ribu klaim ke level 271 ribu klaim untuk minggu yang berakhir pada 14 November lalu. Jumlah klaim tersebut telah berada di bawah level 300 ribu selama 37 minggu terakhir dan dapat diasosiasikan kepada pasar tenaga kerja yang sehat. Hal ini semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember. Dari berita domestik sendiri, beberapa data makroekonomi yang dilaporkan pada pekan lalu adalah sebagai berikut:

  1. Data neraca perdagangan pada bulan Oktober kembali mencatatkan surplus sebesar USD 1,01 miliar di mana ekspor turun sebesar 20,98% YoY (vs -17,98% YoY di bulan September dan -16,78% YoY oleh konsensus) dan impor turun lebih tajam sebesar 27,81% YoY (vs -25,95% YoY di bulan September dan -22% YoY oleh konsensus). Penurunan signifikan pada ekspor terutama disebabkan oleh pelemahan lebih lanjut pada ekspor migas yang turun sebesar 44% YoY (-5,1% MoM) oleh karena rendahnya harga minyak (-24,2% YoY) dan harga komoditas lainnya seperti batu bara dan CPO. Penurunan tajam pada impor juga didorong oleh turunnya impor migas dan komoditas. Impor migas, yang memberikan kontribusi sebesar 16% pada total impor, menyumbang sekitar 40% dari total penurunan impor. Terus terjadinya surplus pada neraca perdagangan memungkinkan defisit transaksi berjalan pada tahun ini untuk berada di bawah 2,3% dari PDB.
  2. Likuiditas di sektor perbankan masih ketat di mana pada bulan September pertumbuhan kredit hanya tercatat sebesar 11% YoY dan rasio LDR stabil di level 89,2% (vs 89,4% di bulan Agustus).
  3. Utang luar negeri Indonesia sampai dengan bulan September turun sebesar 0,6% ke level USD 302 miliar dari level USD 304,5 miliar pada 1H15, terutama didorong oleh penurunan hutang sektor swasta setelah banyak korporasi mengurangi eksposur mereka terhadap hutang USD dan beralih ke hutang berbasis Rupiah.
  4. Pada pertemuan BI yang terakhir, tingkat suku bunga acuan BI tetap dipertahankan pada level 7,5%, akan tetapi rasio giro wajib minimum untuk sektor perbankan diturunkan sebesar 50 bps ke level 7,5% yang kami lihat sebagai langkah awal oleh BI untuk mengukur reaksi pasar atas kebijakan pelonggaran moneter. Selain itu BI juga mengutarakan bahwa pada tahun depan BI akan mengadakan pertemuan bulanan setelah tanggal pertemuan The Fed, indikasi bahwa pengambilan keputusan moneter oleh BI akan didasarkan pada langkah kebijakan The Fed.

Selain itu pada pekan lalu, salah satu analis kami berkesempatan untuk bertemu dengan pihak Direktorat Jenderal Anggaran di bawah Kementerian Keuangan untuk mengetahui lebih lanjut perihal realisasi anggaran tahun 2015, dengan hasil diskusi sebagai berikut:

  1. Sampai dengan pertengahan Oktober 2015, pendapatan negara baru mencapai 59,6% dari target, sedangkan realisasi pengeluaran negara sudah mencapai 65,8% sehingga Dirjen Anggaran memperkirakan akan terjadi defisit sebesar Rp 150-160 triliun. Akan tetapi, menurut analisa kami, defisit yang terjadi dapat mecapai Rp 180-200 triliun oleh karena lambatnya pengumpulan pajak, di mana pendapatan pajak hanya terealisasi sebesar 57,2% dari target tahun 2015.
  2. Walaupun akan terjadi defisit antara pendapatan dan pengeluaran negara, Dirjen Anggaran telah memastikan bahwa anggaran infrastruktur tidak akan mengalami pengurangan dan ditargetkan akan terealisasi sebesar 95-98% sampai dengan akhir tahun 2015.
  3. Selain itu mereka juga memastikan tidak akan memerlukan penerbitan SBN tambahan untuk mengatasi defisit yang terjadi melainkan dapat menggunakan beberapa opsi berikut ini:
  4. Pinjaman bilateral dan multilateral dari beberapa negara dan institusi internasional seperti Cina, Jepang, IMF, dan Bank Dunia.
  5. Melakukan efisiensi pengeluaran pada anggaran kementrian yang tidak habis digunakan. Sampai dengan 15 Oktober 2015, penghematan yang diperoleh dari efisiensi tersebut telah mencapai Rp 16 triliun.
  6. Penggunaan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) pada tahun sebelumnya, di mana Silpa pada tahun 2014 sendiri berjumlah Rp 19 triliun.

Pekan ini, indeks IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang 4.450 – 4.613.

Share this post