Markets at a Crossroads: Earnings Recovery vs Fiscal Risks

Pasar saham Indonesia masih menghadapi dinamika yang cukup kompleks di awal 2026. Di satu sisi, arus dana asing masih menunjukkan tekanan. Namun di sisi lain, prospek pertumbuhan laba perusahaan mulai menunjukkan tanda pemulihan.

Kombinasi dua faktor ini menempatkan pasar pada sebuah inflection point, di mana arah pergerakan berikutnya akan sangat ditentukan oleh dinamika fundamental perusahaan dan stabilitas kebijakan fiskal.

Foreign Outflows Still Dominate the Market
Investor asing telah mencatat dua tahun berturut-turut net outflow dari pasar saham Indonesia.
- FY2025: -Rp43 triliun
- FY2024: -Rp29 triliun

Tren ini masih berlanjut pada awal 2026, dengan net outflow sebesar -Rp17.3 triliun secara year-to-date.

Sektor perbankan menjadi sumber utama arus keluar dana asing, terutama saham BBCA, yang mencatat outflow sekitar Rp15.9 triliun YTD.

Menariknya, tekanan ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh perubahan fundamental perusahaan, melainkan lebih banyak dipicu oleh sentimen non-fundamental dan diperburuk oleh beberapa peristiwa korporasi terbaru.

Earnings Recovery Could Become a Turning Point
Meski arus dana asing masih negatif, terdapat faktor yang berpotensi menjadi katalis perubahan arah pasar: perbaikan pertumbuhan laba perusahaan (EPS).

Perusahaan dalam cakupan riset diperkirakan akan mencatat:
     +10% EPS growth pada FY2026
      Setelah sebelumnya mencatat -3% pertumbuhan EPS pada FY2025

Untuk indeks yang lebih luas seperti IDX80, pertumbuhan laba bahkan diperkirakan dapat mencapai sekitar +15% pada FY2026

Mayoritas pemulihan laba ini diperkirakan berasal dari sektor:
- Metals
- Oil & Gas

Dua sektor ini mendapat dukungan dari dinamika harga komoditas global serta potensi peningkatan permintaan energi dan mineral.

Fiscal Risk Becomes the Key Market Concern
Meski prospek laba mulai membaik, risiko fiskal menjadi perhatian utama bagi pasar pada 2026.

Terdapat dua faktor utama yang perlu diperhatikan.
1. Revenue Shortfall
Pendapatan negara pada FY2025 tercatat 8% lebih rendah dari target, terutama akibat penerimaan pajak yang tidak mencapai ekspektasi.

2. Rising Government Spending
Di sisi lain, pemerintah menargetkan kenaikan belanja sebesar sekitar +11% YoY pada FY2026.

Sebagian besar peningkatan belanja ini berasal dari program:
- MBG (Makan Bergizi Gratis)
- Belanja pertahanan

Jika ketidakseimbangan antara pendapatan dan belanja terus melebar, pemerintah kemungkinan perlu meningkatkan penerbitan obligasi untuk menutup defisit.

Konsekuensi yang mungkin muncul antara lain:
- Defisit fiskal yang lebih lebar
- Risiko penurunan peringkat kredit oleh lembaga rating seperti Fitch, Moody’s, atau S&P
- Biaya pinjaman pemerintah yang lebih tinggi

Dinamika ini dapat berdampak pada pasar obligasi sekaligus sentimen investor terhadap aset Indonesia.

Sector Strategy: Why Commodities Stand Out
Dengan mempertimbangkan kondisi fiskal dan ketidakpastian geopolitik global, sektor komoditas dinilai memiliki posisi yang relatif lebih defensif sekaligus berpotensi memberikan upside.

Sektor ini berpotensi mendapatkan manfaat dari tren harga komoditas serta permintaan global terhadap mineral strategis.

Selain itu, kami juga melihat peluang pada perbankan dengan potensi pemulihan laba yang kuat. Bank-bank seperti the big 4 diperkirakan dapat mencatat perbaikan kinerja seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi domestik.

Pasar saham Indonesia saat ini berada di titik yang cukup menarik.

Arus dana asing memang masih negatif, namun prospek pemulihan laba perusahaan dapat menjadi katalis penting untuk perubahan sentimen pasar.

Di saat yang sama, investor juga perlu mencermati risiko fiskal yang berpotensi mempengaruhi stabilitas makro dan persepsi risiko terhadap aset Indonesia.

Dalam lingkungan seperti ini, pendekatan investasi yang selektif dan berbasis fundamental menjadi semakin penting.