Harga minyak Brent kembali turun ke bawah level US$100/barrel. Penurunan ini melanjutkan koreksi tajam sekitar -7,8% sehari sebelumnya, seiring mulai munculnya sinyal de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pasar merespons positif pernyataan pemerintah Iran yang menyebut sedang meninjau proposal perdamaian dari AS. Presiden Donald Trump juga menyampaikan keyakinannya bahwa Iran menginginkan tercapainya sebuah kesepakatan. Bloomberg melaporkan bahwa Iran diperkirakan akan memberikan respons resminya dalam waktu sekitar dua hari ke depan.
Perkembangan ini menjadi perhatian besar pasar global mengingat konflik di sekitar Selat Hormuz sebelumnya sempat memicu lonjakan tajam harga energi dunia.
From Escalation to Negotiation?
Beberapa hari sebelumnya, tensi geopolitik meningkat cukup signifikan setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan.
AS disebut melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal yang terjebak di sekitar Selat Hormuz, sementara Iran menyerang pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab yang menampung pangkalan militer AS.
Di tengah situasi tersebut:
- AS mengklaim telah menghancurkan 6 kapal militer kecil Iran
- Iran menyerang fasilitas pelabuhan minyak di UEA
- Trump mengatakan AS akan menghentikan sementara pengawalan kapal di Selat Hormuz untuk membuka ruang negosiasi
Meski demikian, blokade terhadap kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran disebut masih tetap berlaku.
Artinya, kondisi geopolitik masih belum sepenuhnya stabil — namun pasar mulai melihat kemungkinan bahwa konflik tidak berkembang menjadi gangguan energi global yang lebih besar.
Market Relief Rally Begins
Sinyal potensi de-eskalasi langsung direspons positif oleh pasar keuangan global.
Bursa Asia menguat cukup signifikan:
Nikkei: +5,58%
- Hang Seng: +1,57%
- Kospi: +1,43%
- IHSG: +1,15%
Sementara itu, bursa AS juga mencatat kenaikan:
- S&P 500: +1,46%
- Nasdaq: +2,02%
Di Eropa, indeks Stoxx 50 bahkan naik sekitar +2,52%.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar global mulai melakukan re-rating terhadap risiko geopolitik, terutama setelah harga minyak mulai turun dari level puncaknya.
Why Lower Oil Prices Matter for Indonesia
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cukup penting.
Dalam beberapa minggu terakhir, kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor risiko terbesar bagi:
- stabilitas fiskal
- nilai tukar Rupiah
- serta sentimen pasar domestik
Sebagai negara net importir minyak, lonjakan harga energi berpotensi:
- meningkatkan subsidi energi
- memperlebar defisit fiskal
- menambah tekanan terhadap Rupiah
Karena itu, penurunan harga minyak dan potensi de-eskalasi konflik dapat membantu mengurangi sebagian tekanan makro yang sebelumnya membayangi pasar Indonesia.
Markets Usually Move Before the Conflict Ends
Meski situasi masih sangat dinamis dan risiko eskalasi tetap ada, historis menunjukkan bahwa pasar modal sering kali mulai pulih bahkan sebelum konflik benar-benar selesai.
Pasar biasanya bergerak berdasarkan:
- ekspektasi
- probabilitas risiko
- dan perubahan arah sentimen
Bukan menunggu kepastian penuh.
Karena itu, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran dalam beberapa hari ke depan kemungkinan akan menjadi fokus utama investor global.