Pajak Obligasi Dipangkas, Reksadana Pasar Uang Makin Untung?

Sebuah kabar baik belum lama ini datang dari Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI hari Senin, 17 Juni lalu. Ia mengatakan bahwa tarif PPh untuk bunga obligasi akan diturunkan dari 15 persen menjadi 5 persen. Insentif tersebut tentu memberikan harapan kepada pelau-pelaku industri khususnya di sektor infrastruktur yang mendapat giliran pertama untuk menerima kebijakan pemotongan pajak obligasi korporasi ini.

Dilansir dari Bareksa.com, jika insentif pajak obligasi ini dilakukan secara menyeluruh di semua sektor, salah satu yang akan berdampak adalah industri perbankan. Dengan semakin menggiurkannya surat utang dengan pemangkasan pajak Bunga, maka minat orang untuk berinvestasi di deposito pun akan berkurang. Bagaimana tidak, saat ini pajak atas Bunga deposito (bank) ialah 20 persen, sedangkan nantinya pajak atas imbal hasil atau kupon berinvestasi di surat utang hanya 5 persen.

Ilustrasinya, misalnya berinvestasi Rp100 juta di deposito dengan tingkat bunga 7 persen per tahun dan obligasi juga memiliki yield yang sama. Maka nantinya investor akan menerima akan menerima bunga setelah pajak deposito Rp5,6 juta, sedangkan imbal hasil obligasi setelah pajak Rp6,65 juta. Artinya secara tidak langsung akan terjadi perebutan likuiditas antara perbankan dengan surat utang. Konsekuensinya, bank harus merespons dengan berupaya membuat produknya menarik, misalnya menaikan suku bunga, namun tidak mudah.

Di sisi lain menurut analisis Bareksa, baik deposito maupun obligasi mempunyai karakteristik yang berbeda, terutama dari sisi jangka waktu dan likuiditas. Misalkan, ada investor yang mempunyai dana idle hanya untuk tenor 3 bulan dan ingin terhindar dari gejolak pasar, maka investor tersebut masih cenderung memilih instrumen deposito dibanding obligasi.

Sebab perdagangan obligasi yang kurang likuid karena Over The Counter (OTC) dan harga obligasi setiap hari terkena harga mark to market sehingga menyebabkan adanya pergerakan atau fluktuasi asset dari investor tersebut.

Lalu Bagaimana Dampaknya Terhadap Reksadana Pasar Uang?

Perlu diingat, perbankan berpeluang untuk menaikkan tingkat suku bunga deposito untuk menyerap dana pihak ketiga (DPK) guna bersaing dengan instrumen pasar modal lainnya termasuk obligasi. Di sisi lain, jika keadaan itu terjadi, tentu akan berdampak positif terhadap prospek reksadana pasar uang. Sebab, reksadana pasar uang merupakan reksadana yang diperuntukkan bagi investor yang mempunyai kebutuhan untuk jangka pendek, yang kurang dari 1 tahun.

Umumnya, mayoritas isi portofolio reksadana pasar uang terdiri dari deposito-deposito perbankan yang dikelola oleh para manajer investasi. Sehingga, jika nantinya kenaikan rate deposito benar terjadi, tentu akan menguntungkan instumen reksadana pasar uang.

Jika pajak kembali diturunkan maka bank akan mengalami masalah likuiditas dan kesulitan mencari sumber dana.