Awal tahun 2026 menghadirkan dua dinamika penting bagi perekonomian Indonesia: penyempitan surplus perdagangan dan kenaikan inflasi headline. Sekilas, kedua perkembangan ini terlihat sebagai sinyal tekanan makro. Namun jika dilihat lebih dalam, terdapat faktor teknis dan struktural yang memberikan konteks berbeda terhadap data tersebut.
Trade Surplus Shrinks as Oil & Gas Deficit Widens
Surplus perdagangan Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$0.95 miliar, turun cukup signifikan dibandingkan US$2.5 miliar pada Desember 2025.
Penyempitan ini terutama disebabkan oleh melebarnya defisit sektor minyak dan gas (O&G) yang mencapai sekitar US$-2.3 miliar, salah satu yang terbesar dalam tiga tahun terakhir.
Di sisi lain, surplus non-O&G juga menurun menjadi US$3.2 miliar, menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya berasal dari energi tetapi juga dari dinamika perdagangan yang lebih luas.
Exports Stay Resilient Despite Commodity Divergence
Kinerja ekspor Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika sektor komoditas.
Total ekspor tercatat US$22.2 miliar, naik sekitar +3.41% secara tahunan.
Beberapa sektor menunjukkan pergerakan yang berbeda:
Palm Oil
Ekspor minyak sawit melonjak +59.6% YoY menjadi US$2.3 miliar, memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas ekspor.
Coal
Sebaliknya, ekspor batu bara mengalami penurunan sekitar -16% YoY, mencerminkan dinamika harga dan permintaan global.
Manufacturing
Sektor manufaktur justru menjadi penopang penting, dengan pertumbuhan +8.2% YoY.
Namun ekspor dari sektor pertambangan dan pertanian masih mengalami tekanan, masing-masing turun sekitar -14.6% YoY dan -20.4% YoY.
Imports Surge Signals Strong Domestic Demand
Sementara ekspor masih bertumbuh moderat, impor meningkat jauh lebih cepat.
Total impor naik +18.2% YoY menjadi US$21.2 miliar.
Lonjakan ini terutama berasal dari:
Oil & Gas Imports
Impor O&G melonjak +27.7% YoY menjadi US$3.2 miliar, yang berkontribusi besar terhadap pelebaran defisit sektor energi.
Non-O&G Imports
Impor non-O&G juga tumbuh kuat +16.7% YoY menjadi US$18.0 miliar, yang dapat diinterpretasikan sebagai sinyal permintaan domestik yang masih solid.
Dengan kata lain, penyempitan surplus perdagangan tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan ekonomi, tetapi juga menunjukkan aktivitas ekonomi domestik yang tetap kuat.
Inflation Rises, But Mainly Due to Base Effects
Dari sisi harga, inflasi headline Indonesia meningkat menjadi +4.8% YoY pada Januari 2026.
Namun kenaikan ini sebagian besar berasal dari efek basis statistik akibat kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50% pada tahun sebelumnya.
Diskon tersebut memberikan kontribusi sekitar 2.2 poin persentase terhadap inflasi saat ini.
Jika faktor tersebut dikeluarkan, inflasi sebenarnya diperkirakan hanya berada di sekitar +2.5% YoY.
Core Inflation Gradually Edges Higher
Inflasi inti juga mengalami kenaikan moderat.
Core inflation tercatat +2.63% YoY, naik dari +2.45% YoY pada Desember 2025, sekaligus menjadi level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Namun kenaikan ini juga dipengaruhi oleh faktor spesifik, terutama kenaikan harga emas.
Jika komponen emas dikeluarkan, inflasi inti sebenarnya hanya berada di sekitar +1.0% YoY, menunjukkan bahwa tekanan harga secara umum masih relatif terkendali.
Inflation Outlook: Still Within BI’s Target Range
Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan akan kembali mereda.
Efek basis dari diskon listrik akan semakin memudar dalam beberapa bulan mendatang, yang berpotensi membawa inflasi kembali di bawah level 3%.
Namun terdapat beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong:
- kenaikan harga emas
- kenaikan harga bahan bakar non-subsidi
yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi domestik.
Data perdagangan dan inflasi terbaru menunjukkan gambaran ekonomi yang cukup seimbang.
Surplus perdagangan memang menyempit, tetapi sebagian besar dipicu oleh kenaikan impor energi dan permintaan domestik yang kuat.
Di sisi lain, lonjakan inflasi headline lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknis, sementara tekanan harga inti masih relatif terkendali.
Kombinasi faktor-faktor ini menunjukkan bahwa fondasi makroekonomi Indonesia tetap cukup solid memasuki 2026, meskipun dinamika global dan geopolitik tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.