Reksadana Pasar Uang dan Deposito, Apa Sih Persamaan dan Perbedaannya?

media-image

 

Bareksa.com – Berbicara tentang investasi, sebagian besar dari kita pasti pernah terpikir untuk memilih produk deposito bank. Namun jika kita bandingkan, sebenarnya produk reksadana pasar uang tidak jauh berbeda dengan deposito.

Sebelum kita membahas lebih lanjut, perlu kita ketahui bahwa reksadana hadir sebagai instrumen investasi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan investor dengan beragam tujuan investasi. Reksadana pasar uang hadir untuk menjadi salah satu jenis reksadana sebagai alternatif bagi investor yang memiliki kebutuhan investasi dalam jangka pendek.

Pada umumnya, pasar uang mungkin sering dianggap sebagai pasar valuta asing (valas) yang terlihat berisiko tinggi. Namun, kenyataannya justru tidak demikian. Definisi reksadana pasar uang adalah reksadana yang 100 persen isi portofolionya berupa efek pasar uang, termasuk instrumen utang yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Beberapa contohnya yaitu deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), serta obligasi pemerintah maupun korporasi yang jatuh temponya kurang dari satu tahun.

Sesuai dengan isi portofolionya, imbal hasil pada reksadana pasar uang pada umumnya mirip dengan suku bunga deposito. Lantas apa yang membedakan reksadana pasar uang dengan deposito?

• Hal pertama yang membedakan adalah dari sisi penerbit. Deposito diterbitkan oleh bank dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan persyaratan tertentu. Sementara reksadana pasar uang merupakan produk investasi yang dikelola oleh manajer investasi sehingga tidak ada jaminan apa pun terhadap dana investor.

• Selanjutnya hal kedua yang membedakan adalah terletak pada sisi fleksibilitas. Deposito pada umumnya mengharuskan dana nasabah mengendap, minimal satu bulan. Sementara reksadana pasar uang menawarkan likuiditas yang tinggi karena investor dapat melakukan pembelian (subscription) dan penjualan kembali (redemption) kapan pun mereka mau, tanpa dikenakan biaya.

• Kemudian hal ketiga yang membedakan adalah dari sisi pajak yang dikenakan. Deposito dikenakan pajak final 20 persen. Sementara imbal hasil dari reksadana pasar uang bukan merupakan objek pajak, sehingga tidak dikenakan pajak.

Adapun reksadana pasar uang bertujuan untuk menjaga nilai investasi awal sekaligus tetap menawarkas likuiditas yang tinggi. Dengan karakteristik tersebut, maka reksadana pasar uang biasanya digunakan sebagai alternatif investasi jangka pendek (sekitar satu tahun), terutama oleh investor institusi maupun perorangan.

Jadi, daripada masih ada dana investor yang “menganggur” dan ditempatkan ke dalam giro, tabungan, maupun deposito on call, maka lebih baik dana tersebut dipindahkan ke dalam reksadana pasar uang dengan harapan imbal hasil yang lebih baik.