Why BI Is Waiting Before Cutting Rates

media-image

Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan BI Rate di level 4.75% pada Februari 2026, sebuah langkah yang mencerminkan pendekatan kebijakan yang berhati-hati di tengah tekanan nilai tukar dan dinamika eksternal yang masih tinggi.

Meski Rupiah sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir, BI menilai bahwa nilai tukar saat ini berada di bawah nilai wajarnya (undervalued). Di saat yang sama, prospek aktivitas ekonomi domestik masih dipandang cukup solid untuk awal tahun 2026.

Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas Utama
Keputusan untuk menahan suku bunga menunjukkan bahwa stabilitas eksternal masih menjadi fokus utama kebijakan moneter.

Beberapa faktor yang membatasi ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat antara lain:
- Risiko outflow dari pasar obligasi
- Permintaan valas musiman
pada awal tahun
- Volatilitas global yang masih tinggi

Karena itu, meskipun arah kebijakan moneter masih condong ke pelonggaran, ruang pemangkasan suku bunga diperkirakan lebih realistis terjadi pada paruh kedua 2026.

Secara keseluruhan, konsensus kebanyakan masih mempertahankan proyeksi penurunan suku bunga sebesar 50bps sepanjang 2026, namun kemungkinan besar akan terjadi secara bertahap pada 2H26.

Konsumsi Rumah Tangga Diperkirakan Tetap Kuat
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, BI menilai aktivitas ekonomi pada 1Q26 masih akan tetap solid.

Beberapa faktor yang menjadi penopang utama antara lain:
1. Mobilitas Musiman
Periode hari raya keagamaan biasanya meningkatkan mobilitas masyarakat dan mendorong aktivitas konsumsi.
2. Stimulus Fiskal Baru
Program stimulus pemerintah diharapkan membantu menjaga daya beli masyarakat.
3. Kebijakan Moneter yang Akomodatif
Likuiditas domestik masih cukup terjaga untuk mendukung aktivitas ekonomi.
4. Implementasi Program Pemerintah
Beberapa program strategis seperti:
- MBG (Makan Bergizi Gratis)
- KDMP

diperkirakan turut mendorong konsumsi rumah tangga.

Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadi alasan mengapa permintaan domestik masih dipandang relatif resilient.

Current Account Berbalik Defisit
Di sisi eksternal, data terbaru menunjukkan bahwa current account Indonesia kembali mencatat defisit pada 4Q25.

Current account tercatat -US$2.5 miliar atau sekitar -0.7% terhadap GDP.

Penyebab utama perubahan ini adalah:
- Peningkatan impor
- Penurunan surplus neraca perdagangan barang

Lonjakan impor sering kali mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi domestik, namun dalam jangka pendek dapat menekan neraca eksternal.

Financial Account Kembali Menguat
Meski current account melemah, financial account justru mencatatkan surplus.
Financial account tercatat +US$8.2 miliar, ditopang oleh:
- Net inflow portfolio investment sebesar +US$4.6 miliar

Hal ini menunjukkan bahwa minat investor global terhadap aset Indonesia masih relatif terjaga, meskipun volatilitas global meningkat.

Momen saat ini menunjukkan keseimbangan yang sedang dijaga oleh kebijakan ekonomi Indonesia.

Di satu sisi, pertumbuhan domestik masih cukup kuat, didukung oleh konsumsi dan stimulus kebijakan.
Namun di sisi lain, stabilitas eksternal tetap menjadi perhatian, terutama di tengah volatilitas global dan dinamika arus modal.

Dalam konteks ini, keputusan BI untuk menahan suku bunga mencerminkan pendekatan wait-and-see yang terukur, sambil menjaga ruang kebijakan ke depan.